LAPORAN
PEMBUATAN TELUR ASIN BERBUMBU 3
DI SUSUN OLEH :
SALMA SABILLA
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 TULUNGAGUNG
Jln. Raya Boyolangu Km. 5 Telp.(0355) 325853Fax. 325853 Tulungagung
Email : smknegeri1tulungagung@gmail.com
TULUNGAGUNG Kode Pos : 66217
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya sehingga laporan ini dapat tersusun hingga selesai. Laporan ini
membahas tentang “PEMBUATAN TELUR ASIN BERBUMBU 3”. Dan di harapkan dapat
memberi pengetahuan dan menambah wawasan bagi siapapun yang membaca laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini
tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan saran baik
materi maupun pikirannya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih sedalam -
dalamnya.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, Penulis yakin masih banyak kekurangan dalam laporan ini, Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini.
Tulungagung, 18 Agustus 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER
|
KATA PENGANTAR |
|
|
|
|
|
DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN |
|
|
|
|
|
1.1 Latar Belakang |
|
|
|
|
|
1.2 Rumusan Masalah |
|
|
||
|
1.3 Tujuan BAB II METODOLOGI PRAKTIKUM |
|
|
|
|
|
2.1 Tempat Praktikum |
|
|
|
|
|
2.2
Waktu Praktikum |
|
|
||
|
2.3 Alat dan Bahan |
|
|
|
|
|
2.4 Langkah Kerja BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN |
|
|
|
|
|
3.1 Hasil Praktikum |
|
|
|
|
|
3.2 Pembahasan Praktikum |
|
|
|
|
|
3.2.1
Morfologi Telur |
|
|
|
|
|
3.2.2
Proses Yang Terjadi Pada Saat Pengasinan |
|
|||
|
3.2.3 Struktur Telur |
|
|||
|
3.2.4 Kandungan Gizi Telur |
|
|||
|
3.2.5 Pengawetan Telur |
|
|||
|
3.2.6 Kualitas Telur Asin BAB IV PENUTUP |
|
|||
|
4.1 Kesimpulan | ||||
|
4.2 Saran | ||||
|
DAFTAR PUSTAKA |
|
|||
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Telur adalah salah satu sumber
protein hewani yang memiliki rasa yang enak dan lezat, mudah dicerna dan
bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur
dapat dimanfaatkan sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur,
obat, dan lain sebagainya. Telur terdiri dari protein 13%, lemak 12% serta vitamin
dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuning telur. Kuning
telur mengandung asam amino esensial yang membantu mempercepat pertumbuhan otot
serta mineral seperti besi, fosfor, sedikit kalsium dan vitamin B kompleks.
Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60% dari seluruh bulatan telur
mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. Kelemahan telur yaitu
memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan
akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Penyimpanan telur dalam
waktu lama tanpa pengawetan dapat menurunkan bobot telur dan putih telur
menjadi encer. Telur yang di awetkan dapat memperpanjang daya simpan tanpa
mengurangi kadar gizinya. Salah satu cara pengawetan yang tidak merubah gizinya
yaitu di asinkan. Oleh sebab itu usaha pengawetan sangat penting untuk
mempertahankan kualitas telur.
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengapa
warna telur sebelum dan sesudah di asinkan berbeda ?
2. Mengapa
telur setelah di asinkan lebih tahan lama ?
3. Bagaimana
proses pembuatan telur asin?
4. Bagaimana
takaran yang tepat untuk membuat telur asin?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui
perbandingan warna sebelum dan sesudah di asinkan.
2. Memperlambat proses pembusukan ( pengawetan )
3. Mengetahui cara pembuatan telur asin.
4. Mengetahui takaran yang tepat untuk membuat telur asin.
BAB II METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Tempat Praktikum
Rumah masing-masing siswa yang
melakukan praktikum
2.2 Waktu Praktikum
Hari,tanggal : Jumat, 7 Agustus 2020
Pukul : 09.30 – selesai
2.3 Alat dan Bahan
Alat : Toples plastik, sendok, baskom, pisau, telenan, plastik,
kompor, panci
Bahan : Telur 6 butir, garam 250
gram, bawang putih 5 siung, cabai 5 biji, jahe 5 cm, air 1 liter
2.4 Langkah Kerja
1. Persiapan alat dan bahan.
2. Cuci bersih perlahan kulit luar telur dengan hati – hati.
3. Kemudian letakkan ditoples, susun dengan rapi.
4. Campur
garam dan air ditempat lain, setelah garam larut ( menjadi air ), tuangkan air
garam ke toples.
5. Keprek bawang putih, jahe, dan potong kecil cabai.
6. Masukkan bawang putih, jahe, dan cabai kedalam air rendaman garam.
7. Masukkan air secukupnya kedalam plastik lalu ikat.
8. Taruh plastik yang berisi air tadi diatas telur.
9. Tutup rapat toples dan simpan selama 11 hari.
10. Setelah 11 hari, angkat lalu rebus di air mendidih dengan api sedang selama 1 jam.
11. Telur asin berbumbu 3 siap disajikan.
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Praktikum.
|
Perubahan |
Sebelum
|
Sesudah |
|
Warna
|
Kuning |
Jingga kecoklatan |
|
Rasa
|
Biasa, amis |
Asin, tidak amis, dan
bumbunya terasa |
3.2
Pembahasan Praktikum
3.2.1 Morfologi telur
Berdasarkan asal hewannya bentuk telur bermacam-macam mulai dari hampir bulat dan lonjong. Beberapa faktor yang menimpa induk penghasil telur mempengaruhi bentuk telur, contohnya faktor turun temurun, umur induk ketika bertelur serta sifat fisiologis didalam tubuh induk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar telur diantaranya :
a. Jenis
hewan.
b. Umur
hewan.
c. Perubahan
musim petelur.
d. Sifat
turun temurun induk.
e. Umur
pembuahan.
f.
Berat tubuh induk.
g. Zat-zat
makanan induk.
Perbedaan warna telur juga oleh jenis induk, seperti telur ayam berwarna putih, kuning sampai kecoklatan, sedagkan telur bebek berwarna biru langit atau warna biru telur asin dan putih. Kadang-kadang ada telur yang berbintik-bintik hitam atau bintik-bintik lain, hal tersebut disebabkan karena adanya kapang yang tumbuh pada permukaan kulit telur. Kebanyakan telur asin dibuat dari telur bebek, bukan dari telur ayam atau telur yang lain. Telur bebek juga ada 2 jenis yaitu yang berwarna biru dan berwarna putih. Masing-masing dari telur ini dihasilkan oleh jenis bebek yang berbeda. Telur bebek memiliki komposisi kadar air (70.4%), protein (13.3%), lemak (14.5%), karbohidrat (0.7%), dan abu (1.1%).
Telur bebek rata-rata lebih berat dibandingkan dengan telur ayam (telur ayam antara 55-60 gram sedangkan telur bebek antara 65-70 gram). Kulit telur bebek lebih tebal dibandingkan dengan telur ayam, jumlah porinya juga lebih sedikit dengan membran dalam yang lebih tebal pula. Hal ini memungkinkan lebih lambat berlangsungnya proses dehidrasi sehingga telur bebek dapat bertahan lebih lama dalam penyimpanan. Daya simpan telur bebek kira-kira 20% lebih lama dibandingkan dengan daya simpan telur ayam dalam kondisi lingkungan yang sama.
Ø Ada
beberapa alasan mengapa telur asin dibuat dari telur bebek, yaitu:
1. Cangkang
telur bebek lebih tebal, sehingga telur bebek tidak mudah retak atau
pecah.
2. Pori-pori
telur bebek lebih besar. Pori-pori ini akan sangat berpengaruh pada saat proses
pengasinan karena garam akan lebih mudah berpenetrasi ke dalam telur bebek.
Jika pori-pori telur kecil, akan menyebabkan penetrasi garam terhambat sehingga
rasa telur jadi kurang asin. Bisa juga pengasinan dilakukan tetapi butuh waktu
yang lama. Poripori telur bebek juga bisa diperlebar dengan cara menggosok
telur dengan amplas halus.
3. Nilai
gizi telur bebek lebih tinggi. Di dalam telur bebek, banyak terkandung protein.
Protein telur ini mengandung asam amino esensial yang diperlukan tubuh untuk
hidup sehat. Jumlah dan komposisi asam amino pada telur sangat lengkap dan
berimbang, sehingga dapat digunakan untuk pertumbuhan juga pergantian sel yang
rusak.
4. Masa simpan telur bebek lebih lama. Hal ini dipengaruhi oleh ketebalan cangkang yang mampu melindungi.
3.2.2 Proses Yang Terjadi Pada Saat Pengasinan.
Pengasinan telur umumnya dilakukan
dengan dua cara, yaitu perendaman dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan
campuran garam dengan tanah liat, abu gosok atau bubuk bata merah. Telur yang
direndam dalam media garam akan mengalami osmosis yaitu proses perpindahan
molekul zat terlarut dari konsentrasi rendah (hipotonik) ke konsentrasi lebih
tinggi (hipertonik) sehingga telur menjadi asin. Berat telur akan bertambah
akibat dari masuknya suatu molekul ke dalam telur, dalam hal ini air dan garam
yang masuk ke dalam telur. Berat telur bertambah sedangkan volume air
berkurang, hal ini dikarenakan molekul air dan garam bergerak masuk ke dalam
telur karena larutan garam lebih hipotonik dibanding isi telur yang hipertonik
sehingga menyebabkan hemolysis atau masuknya molekul air dan garam ke dalam
telur, sehingga berat telur bertambah tetapi volume air berkurang.
Tekstur kuning telur pada telur asin akan berubah menjadi lebih keras karena ketika molekul air dan garam masuk ke dalam telur, maka air dan garam masuk ke putih telur karena konsentrasi putih telur lebih pekat daripada larutan garam, tetapi perlu kita ingat bahwa masih ada kuning telur yang konsentrasinya jauh lebih pekat dibanding dengan putih telur dan larutan garam. Sehingga molekul air dan garam masuk ke kuning telur, tetapi lebih banyak garam yang masuk dibanding dengan air. Semakin lama, garam yang terdapat di dalam kuning telur akan semakin menumpuk sehingga kuning telur akan mengeras karena kelebihan mineral garam.
3.2.3 Struktur Telur
1. Kulit telur.
Telur unggas biasanya mempunyai kulit yang halus, kuat dan berkapur. Faktor-faktor yang pempengaruhi ketebalan kulit telur antara lain sifat turun-temurun dari induknya, musim/cuaca pembuahan, makanan induk dan faktor fisiologi lain. Contohnya ayam yang mendapat makanan dengan kandungan kalsium (Ca) yang cukup banyak akan menghasilkan telur dengan kulit yang lebih tebal.
Kekuatan dan ketebalan kulit telur menjadi pelindung isi telur dari serangan-serangan dari luar. Dalam kondisi lingkungan yang baik dan kulit tetap utuh maka isi telur akan aman dari serangan mikrobia, namun apabila ada sedikit saja keretakan atau lubang pada kulit telur, maka isi telur akan sangat mudh terserang mikrobia.
Kulit telur terdiri dari 4 bagian
utama pembentuk kulit yaitu :
a. Kutikula
adalah lapisan luar yang menyelubungi seluruh permukaan kulit telur. Lapisan
ini sangat tipis, pada telur ayam dan telur bebek berkisar 3 sampai 10 mikron. Lapisan ini dibentuk oleh
protein yang berupa musin (mucin). Sifat kutikula ini tidak mempunyai pori-pori
terbuka, namun dapat dilalui oleh gas sehingga uap air dan gas CO2 dapat keluar
dari isi telur.
b. Lapisan
bunga karang adalah bagian terbesar dari kulit telur, letaknya dibawah
kutikula. Laisan ini teriri dari protein serabut berbentuk anyaman dan lapisan
kapur terdiri dari kalsiuj karbonat (CaCO3), kalsium fosfat (Ca3 (PO4)2),
magnesium karbonat (MgCO3), dan magnesium fosfat (Mg3(PO4)2.
c. Lapisan
mamila adalah lapisan ketiga pada kulit telur, lapisan ini berbentuk
bongol-bongol dengan penampang bulat atau lonjong. Tebal lapisan ini lebih
kurang sepertiga tebal seluruh kulit dan terdiri dari bagian amyaman
protein dan mineral.
d. Lapisan
yang paling dalam adalah lapisan membrana yang terdiri dari dua lapisan selaput
yang berbentuk seperti kertas perkamen. Ketebalannya sekitar 65 mikron. Makin
kearah bagian tumpul makin tebal. Membrana yang melekat pada mamila lebih tebal
daripada membran yang berhubungan dengan putih telur. Umumnya kulit telur ayam
lebih tipis dibandingkan telur bebek.
2. Putih
telur
Putih telur menempati 60 % dari seluruh telur. Bagian tesebut dinamakan albumen yang artinya putih. Umumnya 40% dari putih telur merupakan cairan kental, sisanya merupakan setengah padat
3. Kuning
telur.
Kuning telur adalah embrio, khususnya
yang dihasilkan oleh suatu proses pembuahan pada telur. Sehingga kuning telur
merupakan bagian terpenting pada telur. Selain itu, kuning telur penuh akan
zat-zat bernilai gizi tinggi yang berfungsi menunjang kehidupan embrio. Bentuk
kuning telur hampir bulat, berwarna kuning atau jingga dan terletak tepat
ditengah-tengah telur.
3.2.4 Kandungan Gizi Telur.
Telur asin adalah istilah umum
untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan
(diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur
yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur
yang lain. Masa kadaluwarsa telur asin bisa mencapai 30 hari.
Telur adalah salah satu sumber
protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi.
Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat dimanfaatkan
sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur, obat, dan lain
sebagainya. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan
mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur
mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti besi,
fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein (50%) dan
semua lemak terdapat pada kuning telur.
3.2.5 Pengawetan Telur.
Usaha pengawetan telur sangat penting untuk mempertahankan kualitas telur ayam & bebek. Salah satu penyebab kerusakan telur adalah karena terjadinya pertumbuhan pada mikroba pada telur tersebut. Supaya telur menjadi lebih awet, maka dilakukan proses pengawetan. Tujuan pengawetan telur adalah untuk mengurangi jumlah awal sel jasad renik didalam telur, memperpanjang fase adaptasi semaksimum mungkin sehingga pertumbuhan mikroba diperlambat, memperlambat fase pertumbuhan logaritmit dan mempercepat fase kematian mikroba.
Prinsip pengawetan telur adalah untuk mencegah
masuknya bakteri pembusuk ke dalam telur dan mencegah keluarnya air dari dalam
telur. Garam berfungsi sebagai pencipta rasa asin dan sekaligus bahan pengawet
karena dapat mengurangi kelarutan oksigen (oksigen diperlukan oleh bakteri),
menghambat kerja enzim proteolitik (enzim perusak protein), dan menyerap air
dari dalam telur. Menurut Sukendra (1976),
untuk menghasilkan telur asin yang memiliki karakteristik disukai diperlukan
waktu 12 hari pengasinan. Menurut
Kautsar (2005), proses pengasinan
telur memerlukan waktu selama 15 – 30 hari. Sedangkan proses pengasinan dengan
larutan garam jenuh memerlukan waktu sekitar 7 – 10 hari. Lama waktu proses
tersebut masih menjadi permasalahan yang harus dipecahkan, karena selain lama
perendaman erat kaitannya dengan efisiensi waktu proses pengasinan telur, juga
erat kaitannya dengan karakteristik organoleptik telur asin yang dihasilkan.
Kulit telur ayam yang lebih tipis jika dibandingkan kulit telur bebek membuat
garam lebih mudah masuk ke dalam telur ayam jika dibandingkan ke dalam telur
bebek, sehingga untuk telur ayam seharusnya perlu menggunakan waktu selama
waktu yang digunakan untuk pengeraman telur bebek.
3.2.6 Kualitas Telur Asin.
Kualitas telur
ditentukan oleh kualitas bagian dalam (kekentalan putih dan kuning telur,
posisi kuning telur, dan ada tidaknya noda atau bintik darah pada putih atau
kuning telur) serta kualitas bagian luar (bentuk dan warna kulit, permukaan
telur, keutuhan, dan kebersihan kulit telur).
Penilaian terhadap mutu telur asin dapat dilakukan
dengan menggunakan parameter berikut:
a. Sifatnya stabil. Artinya dapat disimpan lama tanpa mengalami kerusakan. Semakin banyak garam yang digunakan dan semakin lama waktu pengasinan, telur akan semakin awet dan asin. Setiap orang mempunyai selera yang berbeda mengenai rasa asin ini. Karena itu, penggunaan garam dan waktu pengasinan sebaiknya dibatasi, sampai taraf yang enak dinikmati oleh lidah konsumen
b. Aroma
dan rasanya enak. Telur asin yang baik akan bebas dari rasa amis, pahit, bau
amoniak, bau busuk, serta rasa dan bau lainnya yang tidak diharapkan.
c. Telur
asin yang baik hanya mengandung minyak di bagian pinggirnya saja.
Apabila campuran adonan garam yang digunakan tidak
sempurna, yang dihasilkan adalah putih telur yang berwarna kebiruan. Bila ke
dalam adonan ditambahkan sedikit kapur, putih telur akan berwarna kekuningan.
d. Letak kuning telur yang dikehendaki adalah di tengah-tengah. Apabila bergeser, kemungkinan penyebabnya adalah telur segar yang digunakan sudah rusak atau peletakan telur dalam tempayan tidak tepat. Sebaiknya telur diletakkan dengan bagian tumpulnya menghadap ke atas.
BAB VI PENUTUP
4.1 Kesimpulan.
1. Telur
asin yang saya buat menggunakan metode perendaman dengan garam, bawang putih,
jahe, dan cabai dengan perbandingan 250 gram garam : 5 siung bawang putih : 5
cm jahe : 5 biji cabai. Pembuatan telur asin ini diawali dengan mencuci telur.
Telur direndam menggunakan air garam dan diberi bumbu ( bawang putih, jahe,
cabai ). Taruh plastik yang berisi air diatas telur, gunanya agar telur tidak
mengambang.
2. Proses
pengasinan telur bertujuan agar membuat telur menjadi lebih awet.
3. Proses
masuknya garam ke dalam telur berlangsung secara dehidrasi osmosis, ion Na di
dapatkan dari garam, sedangkan ion H+ berasal dari air, dengan demikian, ion Na
masuk ke dalam telur dan kadar air berkurang, akibatnya telur menjadi asin.
4. Tingkat
asin pada telur dipengaruhi oleh faktor waktu.
5. Semakin
sedikit kandungan air yang terkandung dalam telur akan membuat telur semakin
awet.
4.2 Saran.
Penulis berharap kiranya laporan praktikum ini dapat menjadi salah satu bahan bacaan yang bermanfaat bagi para pembaca yang haus akan ilmu dan keterampilan, untuk dapat mempersiapkan diri dalam kompetisi persaingan yang sehat dalam hal penciptaan peluang kerja yang produktif. Untuk membuat telur asin sebaiknya telur dipilih yang cangkang telurnya tidak retak-retak atau rusak agar hasil telur asinnya lebih optimal. Perebusan telur asin sebaiknya lebih lama, karena perebusan yang kurang lama menyebabkan tekstur telur masih cair. Selain itu perlu diperhatikan juga dalam proses penyimpanan telur asin, agar telur asin tidak mudah retak ataupun pecah.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, S., S. Sirajuddin, dan N. Jafar.2014. Pengaruh Konsentrasi Garam dan Lama Penyimpanan Terhadap Kandungan Protein dan Kadar Garam Telur Asin. Available at: http://repository.unahs.ac.id. ( Diakses 18 Agustus 2020 ).
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pengelolaan Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.
Novia, D., S. Melia dan N. Z. Ayuza.2011. Kajian Suhu PengovenanTerhadap Kadar Protein danNilai Organoleptik Telur Asin.Jurnal Peternakan, 8(2):70-76
Nuruazzakiah, H. Rahmatan, dan D.Syafrianti. 2016. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Kadar Protein dan Kualitas Organoleptik Telur Bebek. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Biologi, Vol 1(1):1-15
Romanoff, A. L dan A. J. Romanoff.1949. The Avian Eggs. JohnWilley and Sons, Inc., NewYork
Suprapti, M. L. 2002. Pengawetan Telur. Kanisius, Yogyakarta.
Warisno. 2005. Membuat Telur Asin aneka Rasa. Agromedia, Jakarta.
Wulandari, Z. 2002. Sifat Organoleptik, Sifat Fisikokimia, dan Total Mikroba Telur Itik Asin Hasil Penggaraman dengan Tekanan.Thesis. Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Bogor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar